Selasa, 07 Desember 2010

Wings

Sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak Stefani kalau sekarang dirinya menjadi seorang pilot pesawat tempur. Sejak kecil, dia bercita-cita ingin menjadi seorang arsitek. Dua profesi yang sungguh sangat berbeda. Walaupun begitu, Stefani begitu menikmati pekerjaannya sebagai seorang pilot tempur. Ia sangat menikmati pekerjaannya yang penuh tantangan dan bahaya itu, bahkan penerbangan perdananya membuat dirinya ketagihan. "Gila! Asyik banget," teriaknya di dalam pesawat tempurnya. Ia melewati awan-awan dan melintasi gunung-gunung tinggi yang menjulang ke angkasa. Stefani begitu lihai membawa pesawat tempurnya. Begitu pesawat itu mendarat, Stefani langsung mengeluh. "Sialan, dah capek-capek ngantri hanya lima menit merasakannya. Lain kali kalau ke Dufan jangan hari libur ah, biar bisa merasakan permainan wings sepuasnya," ucapnya sambil berjalan menuju pintu keluar.

Kamis, 23 September 2010

Permen Berjalan

Beberapa menit yang lalu, Karen mendapat telepon dari seseorang yang mengatakan kalau kekasihnya mengalami kecelakaan. Betapa terkejut dirinya. Dari nada bicara & sederet pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehnya kalau Karen begitu panik. Tanpa berpikir lagi, Karen langsung menuju ke rumah sakit di mana keksihnya tergolek tak berdaya. Semua aktivitas dirinya langsung ditinggalkan begitu saja olehnya. Sesampainya di rumah sakit, dia bertemu dengan orang-orang yang memandanginya dengan senyuman. Kenal pun tidak, hal itulah yang membuat Karen menjadi heran. Karena rasa panik masih menguasai dirinya, hal itu tidak dipedulikan olehnya. Pikirannya hanya terpusat kepada kekasihnya. Seseorang yang tidak begitu jauh darinya melambaikan tangan pada dirinya dan Karen langsung mengenali orang itu. "Bagaimana keadaan Imsak? Dia di mana sekarang?" tanya Karen dengan dengan panik. "Tenang saja kamu jangan panik, dia hanya luja ringan kok," ucap lawan bicaranya. Walaupun sedikit lega, Karen tetap saja belum bisa melepaskan rasa cemas di hatinya. Wajahnya masih terlihat pucat. Dia menunggu dengan gelisah sambil berjalan bolak-balik tak karuan di depan ruang di mana kekasihnya berada. Tiba-tiba sahabat kekasihnya pun tersenyum begitu saja begitu dirinya melihat ke arah kaki Karen. Sambil mendekat ke arah Karen, orang itu bicara pada Karen sepelan-pelannya seolah-olah jangan sampai orang lain tahu. "Ternyata ada permen berjalan juga ya di rumah sakit ini, tengok ke arah kaki," ucapnya sambil tersenyum. Karen pun dengan reflek langsung melihat ke arah kakinya. "Astaga! Sandalku!" ucapnya. Kaki kiri menggunakan sandal japit berwarna merah, sedangkan kaki yang satunya lagi memakai sandal berwarna biru. "Orang akan mengiramu akan pergi ke pasar," ledek orang yang berada di sebelahnya yang tak lain adalah sahabat kekasihnya.

Rabu, 25 Agustus 2010

Mahasiswa Abadi Mata Kuliah Matematika

Karena tidak lulus mata kuliah Matematika, Angki terpaksa mengulang mata kuliah tersebut. Angki paling tidak suka dan tidak bisa dengan Matematika. Otaknya berasa macet bila menghadapi mata kuliah tersebut. Suka ataupun tidak, dia harus mengulang mata kuliah tersebut. Karena nilai Matematika II yang tidak lulus, maka pada semester genap ini dia menyantumkan mata kuliah tersebut dalam KRS-nya. Waktu berjalan begitu cepat, tidak berasa lagi, Angki harus menghadapi UAS. Karena dia merasa tidak mampu untuk menghadapi soal ujian Matematika, dia akhirnya menyewa temannya yang jago Matematika untuk menjadi joki atas dirinya. Temannya pun menyanggupinya. Menurut jadwal, mata kuliah Matematika akan diujikan besok. Angki terlihat sangat tenang dan santai di dalam kosnya malam itu. Dia bersiul-siul tanpa mempunyai rasa beban sedikit pun. Walaupun sudah ada temannya yang mau jadi joki atas namanya, Angki tetap datang ke kampusnya. Di depan perpustakaan jurusan, dia bertemu dengan dosennya. Angki dengan pede menyapa dosennya seolah-olah dia ingin meyakinkan dosennya kalau dia telah hadir di ujian mata kuliah Matematika. "Pagi Pak," sapanya sambil menyalaminya. "Pagi Ki. Gimana ujiannya tadi?" tanya dosennya. "Alhamdulillah bisa Pak," jawabnya dengan tegas dan meyakinkan. "Syukurlah, bagus kalau begitu. Saya tidak mau bertemu Anda lagi pada mata kuliah yang sama, tapi dalam kesempatan yang lain yang lebih menuenangkan, bukan antara dosen dengan mahasiswanya," ucapnya sambil menepuk bahu Angki sambil melangkah pergi. "Terima kasih Pak," ucap Angki. Begitu selesai bersua dengan dosennya, Angki menghampiri seorang temannya yang kebetulan mengulang mata kuliah Matematika. "Astrid lihat Ramadhan gak?" tanyanya. "Gak tahu," jawab temannya singkat. "Lho, tapi dia ikut ujian Matematika kan?" tanyanya lagi. "Sepertinya gak ada tuh dan memang dia gak ngulang deh. Lho, harusnya kan kamu..." ucapnya. Belum sempat temannya menyelesaikan kalimatnya, Angki langsung memotong pembicaraan "Aku cabut dulu," ucapnya. Dia langsung menuju kos Ramadhan. Betapa kagetnya Angki saat melihat Ramadhan yang masih tertidur. "Lho, dia kok..." ucap Angki. "Dia baru aja bisa tidur. Sejak kemarin, dia bolak-balik terus ke belakang. Dia kena diare," ucap salah satu teman kos Ramadhan. Akhirnya Angki pun duduk lemas di lantai sambil menatap temannya. "Apes," ucapnya lirih.

Sabtu, 17 Juli 2010

Sesuatu yang Disayangkan

Rumah makan minang menjadi tujuan makan siang Jesika dan Mongga. Sambil menunggu pesanannya datang, Mongga melihat-lihat sekeliling tempat makan itu. Tiba-tiba pandangannya berhenti begitu melihat seorang laki-laki tampan yang sedang duduk seorang diri. Laki-laki itu terlihat sangat tenang. "Jes, coba deh kamu lihat ke cowok yang duduk di bangku paling sudut itu. Dia cakep banget kan?" ucap Mongga meminta persetujuan temannya. "Mana sih?" tanya Jesika sambil mencari-cari seseorang yang dimaksud temannya. "Aduh, jangan keras-keras dong nanti dia dengar lagi," ucap Mongga. "Oh, yang itu ya. Busyet, itu sih cakep banget," ucap Jesika. "Menurutmu, dia udah punya pacar belum ya?" tanya Jesika. "Orang secakep dia pastinya sudah punya pacar," ucap Mongga lagi. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mendekati laki-laki tampan itu. "Aduh, sayang maaf banget ya aku telat. Kamu pasti sudah menunggu lama ya di sini," ucap laki-laki yang baru saja datang sambil mengecup lawan bicaranya. Kedua laki-laki itu duduk saling berhadapan sambil berpegangan tangan. Kedua laki-laki itu terlihat begitu mesra. Melihat pemandangan seperti itu, Jesika dan Mongga saling berpandangan. Keduanya serempak mengatakan, "Cape deeeeeeh...." Disusul tawa mereka yang meledak.

Sabtu, 05 Juni 2010

PILIHAN TERBAIK

Dua puluh lima tahun yang lalu, Hanif dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Pilihan yang menguras pikirannya, pilihan penting karena menyangkut masa depannya. Pilihan yang harus dia perjuangkan. Hanif dihadapkan pada pilihan antara harus memilih orang yang sangat mencintainya dengan tulus atau orang yang sangat dia cintai. Namun, orang yang dia cintai tidak memiliki cinta yang tulus. Dengan berjuang melawan hatinya, Hanif akhirnya memilih seseorang yang sangat mencintainya dengan tulus. Dan kini, dia sama sekali tidak pernah menyesali atas pilihannya itu. Bahkan sekarang, Hanif begitu mensyukurinya. Kini hidupnya sangat bahagia dengan orang yang dulu hingga saat ini begitu mencintai dirinya. Hanif pun kini bisa mencintai orang yang sejak dua puluh lima tahun lalu mendampinginya.

Rabu, 12 Mei 2010

MANTAN PACAR

Sudah satu tahun yang lalu, Manda putus dengan Yunaz, pacarnya. "Jadi, kamu sudah putus dengan pacarmu yang belagu itu. Siapa tuh namanya?" tanya Ceryl. "Yunaz," jawab Manda sambil mengangguk lesu. "Coba deh dari dulu, kamu turuti perkataanku untuk jadian dengan sepupuku, Angki. Kejadian seperti ini gak bakal terjadi deh. Sepupuku itu pasti akan menjagamu dangan baik. Dia itu laki-laki yang bertanggung jawab, dan terpenting gak nyakiti kamu dengan selingkuh dengan cewek lain seperti yang dilakukan Yunaz. Pokoknya beda jauh deh dengan mantan pacarmu itu," ucap Ceryl. "Tapi walaupun begitu, aku cinta dia, Cer," ucap Manda. "Dasar manusia bodoh mau-maunya mencintai orang seperti itu. Pintar gak, baik jauh dari jangkauannya, hanya belagu yang dia agung-agungkan," ucap Ceryl kesal. "Udah, lupain dia. Mending sekarang kamu jadian aja dengan sepupuku, Angki. Nanti malam, aku akan memperkenalkan kamu dengannya. Kamu mau ya?" tanya Ceryl. Awalnya, Manda menolaknya, tapi pada akhirnya menerima tawaran temannya. Malam itu Ceryl mengajak Manda ke sebuah Kafe untuk menemui Angki yang akan dijodohkan pada teman baiknya. Lima belas menit sudah, Ceryl dan Manda menunggu. Tiba-tiba Ceryl tersenyum sambil melambaikan tangannya pada seseorang. "Nah, itu Angki datang," ucap Ceryl. Manda langsung menengok pada orang yang dimaksud oleh Ceryl yang tidak lain adalah Yunaz sambil tangannya menggenggam erat tangan Ceryl. Wajah Manda mendadak pucat. Itulah dunia yang sesungguhnya, yaitu tidak seluas seperti yang kita bayangkan.

Sabtu, 01 Mei 2010

CINTA SEJATI

"Apa yang harus aku lakukan agar bisa membahagiakanmu? Apakah aku akan merubah kepribadianku menjadi seorang pribadi yang kamu sukai?" tanya Andrea pada Ikang. "Itu tak perlu kamu lakukan. Jadilah dirimu sendiri dan tunjukkan segala keunikan yang ada pada dirimu. Aku hanya meminta satu saja darimu?" ucap Ikang. "Katakanlah," ucap Andrea sambil memandang kekasihnya. "Berikanlah cintamu hanya padaku seorang," pintanya. Andrea pun tersenyum manis pada Ikang.

Selasa, 20 April 2010

JILBAB

"Mama dan papa melarang kakakku pakai jilbab," ucap Kirana pada Fajar tanpa ekspresi yang berarti. "Kenapa? Kok bisa begitu? Pakai jilbab kan bagus. Sudah menjadi kewajiban wanita muslim untuk menutup aurat. Berarti aku beruntung banget dong memiliki orang tua yang justru mendukung keinginanku untuk memakai jilbab. Insya Allah, aku dalam waktu dekat ini, aku akan mengenakan jilbab," ucap Fajar. "Kasihan ya kakak kamu pasti sedih banget karena gak boleh pakai jilbab," ucapnya lagi pada Kirana. "Lima belas menit lagi, kakakku akan menjemputku," ucap Kirana sambil melihat pergelangan tangan kanannya. "Kamu mau pulang bareng kami gak? Mobilku masih kosong, cuma kami berdua," tanya Kirana. "Gak deh, makasih, aku pakai angkot aja. Lagian apa kamu lupa kalau rumah kita berlawanan arah," ucap Fajar. "Ya, maksudnya, kami akan mengantarmu." Fajar tersenyum mendengar ucapan temannya. "Makasih, gak usah repot-repot Ki," ucap Fajar. Lima menit kemudian, kakak Kirana sampai di kampus adiknya dengan menggunakan Honda CRV hitam. Orang itu membuka kaca mobilnya sambil menekan klakson. "Tepat waktu. Itu kakakku dah datang," ucap Kirana sambil menunjuk ke arah orang yang berada di dalam mobil itu. "Ki, kamu punya kakak berapa?" tanya Fajar pada Kirana yang hendak meninggalkannya. "Cuma satu. Ya, dia itu yang ada di dalam mobil, kakakku satu-satunya," ucap Kirana sambil tersenyum teringat perbincangan mereka berdua tadi. "Tertipu ya," Kirana mengedipkan salah satu matanya kepada Fajar. Orang laki-laki yang berada di dalam mobil pun tersenyum pada Fajar. "Oh, pantas aja," ucap Fajar sambil tersenyum. "Gila juga tuh anak, gak nyangka," sambung Fajar lagi, tapi kali ini dengan suara yang sangat pelan dan hanya bisa didengar oleh dirinya aja.

Sabtu, 10 April 2010

MIMPI

Betapa bahagia Ginar saat itu. Bagaimana tidak, dia bisa berkencan dengan vokalis sebuah band yang sangat digandrungi banyak orang. Seolah dirinya menjadi seorang putri karena telah resmi menjadi kekasih vokalis sebuah band ternama. Uh, betapa bangga dirinya. Di mana pun, Ginar dan kekasihnya itu pergi pasti banyak orang yang akan iri melihatnya. Yang peremuan cantik dan yang laki-lakinya ganteng. Pasangan yang sunguh serasi. Bagaikan Romeo dan Juliet. Malam itu, Ginar benar-benar mendapatkan surprise dari sang kekasihnya. Malam ulang tahunnya dirayakan hanya berdua. Di sebuah taman yang telah dihiasi oleh lilin-lilin indah. Di tengah taman itu hanya terdapat satu meja dengan dua kursi yang saling berhadapan. Di meja itu tertata dua lilin dengan perlengkapan makan yang tersusun dengan rapi. Di tengah kolam yang berbentuk angka delapan itu terdapat rangkaian bunga yang terbentuk indah dengan bertuliskan "Happy birthday my soulmate". Suasana malam itu begitu romantis karena bermandikan cahaya lilin. Yang berbeda malam itu, kekasihnya itu tidak perlu menyewa orang untuk memainkan beberapa alat musik hanya sekedar akan menambah nilai keromantisan malam itu. Betapa bahagianya hati Ginar saat itu, kekasihnya menyanyikan satu lagu untuknya dengan suara emasnya itu. Lagu yang syairnya dalem banget. Sebuah lagu kesayanganya. Semuanya terlihat sangat indah dan begitu sempurna. Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing... suara beker di kamarnya berbunyi. "Aduuuuuuuuuuuuuh..." Suara Ginar mengeluh karena terjatuh dari tempat tidurnya sambil meringis kesakitan. Namun dua menit kemudian, Ginar tersenyum mengingat mimpinya.

Minggu, 04 April 2010

TERGODA

Pasti banyak laki-laki yang akan meliriknya. Bodynya seperti gitar Spanyol. Terlihat begitu seksi dan menggoda. Salah satu laki-laki meraba lekuk body yang menyerupai gitar Spanyol itu. Body yang begitu mulus, tidak ditemui cacat sedikit pun. Dirinya terlihat tampak seksi. Semakin lama dipandang terasa semakin menggodanya. Rasanya laki-laki itu tidak sabar lagi untuk segera menikmatinya. Laki-laki itu pun akhirnya mengangkat body yang berbentuk gitar Spanyol itu. Dipandangnya sekali lagi oleh laki-laki itu sambil tersenyum karena keindahan bodiya membuat semua orang tidak merasa bosan memandanginya. Bus!!! Suara botol minuman itu menyemburkan buih setelah dibuka tutupnya. "Minuman dari mana ini? Enak banget rasanya," ucap seorang laki-laki.

Sabtu, 27 Maret 2010

PELAT MERAH

"Sampai Kakek pensiun pun, kita masih menggunakan vespa butut ini aja ya Kek," ucap nenek pada suaminya. "Walaupun begitu, kita harus tetap bangga lho Nek. Ingat, vespa ini adalah salah satu dari mas kawin pernikahan kita," ucap kakek menanggapi istrinya. "Lain dulu, lain sekarang Kek. Tapi sekarang, vespa kita ini sudah ketinggalan zaman. Dah, butut, gak bisa lari lagi," ucap nenek pada suaminya. Mereka sedang berboncengan dengan menggunakan vespa bututnya. "Coba kita punya mobil seperti yang di depan itu," ucap nenek lagi. "Oh, Nissan X-Trile, daripada mobil yang di depan kita itu, vespa kita lebih baik Nek," ucap kakek. "Baik apanya? Masa motor butut dibandingkan dengan mobil mewah itu, Kakek lebih pilih motor butut," ucap neneknya yang belum bisa mengikuti jalan pikiran suaminya. "Coba deh, Nenek lihat warna pelat mobil itu," ucap kakeknya. "Merah," ucap neneknya dengan polos, tanpa ekspresi sedikit pun.

Jumat, 19 Maret 2010

TUKANG PIJAT KELILING

Siang itu, jalan menuju rumah temannya terlihat sangat sepi. Karena rasa senang, dirinya akan berlibur ke Jepang, Wugi bernyanyi sambil melenggak-lenggokkan kepalanya. Dirinya begitu bahagia. Berlibur ke Jepang sudah diidamkannya sejak dulu, tapi ayahnya baru mengizinkannya pergi sekarang, itu pun harus ditemani oleh kakaknya. Tidak apalah pikirnya, yang penting bisa berlibur ke Jepang. Dia hendak ke rumah temannya sambil bernyanyi tanpa henti. Karena teramat bahagia, sehingga dirinya tidak melihat kalau ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Seorang laki-laki memakai kacamata hitam dan duduk di tengah bangku. Orang laki-laki itu sedang memandang ke arah Wugi sambil tersenyum. Begitu Wugi sadar kalau dirinya tengah diperhatikan oleh seseorang, Wugi langsung berhenti bernyanyi, kepalanya tidak lagi berlenggak-lenggok mengikuti alunan musik dari MP3 miliknya. Wugi benar-benar malu pada laki-laki itu. Pasti dia sudah lama memperhatikan tingkahku, pikir Wugi dalam hati. "Aduh, aku benar-benar malu sama orang itu," ucap Wugi pelan. Tiba-tiba laki-laki berkacamata hitam pun bangkit sambil tangannya meraba-raba ke arah sampingnya seperti hendak mencari sesuatu. Sebuah tongkat diraih oleh laki-laki itu. Laki-laki itu pun langsung berjalan meninggalkan Wugi dengan bantuan sebuah tongkat sabagai penunjuk jalan. "Pijat...pijat..." ucap laki-laki itu dengan suara keras sambil tangan kirinya sibuk menggoyangkan barang yang dibawanya, sehingga menimbulkan bunyi bergemerincing.

Selasa, 09 Maret 2010

JEALOUS

Hampir tujuh bulan, Sabina tidak bertemu dengan Daru, kekasihnya padahal akhir-akhir ini Sabina sangat membutuhkan kehadirannya. Kehadiran seorang yang bisa memberikan support pada dirinya yang sedang mengalami berbagai masalah. Baik dalam keadaan senang ataupun sedih pastilah orang pertama yang ingin Sabina tuju adalah Daru. Sabina benar2 merindukan kekasihnya. Dia menginginkan kehadiran sosok Daru di sampingnya. Seorang sosok yang sangat dicintainya. Seorang sosok yang dulu sangat perhatian pada dirinya. Seorang laki2 yang dulu sangat menyayangi dan mencintainya dengan tulus. Namun, akhir2 ini, Daru seolah menjauh darinya. Sabina benar2 merasa kehilangan Daru. Dirinya merasa sangat sedih. Daru yang dulu sangat dia kenal, kini seolah terasa asing baginya. Bagaimana mungkin, Daru berubah secepat itu, pikirnya. Selama tujuh bulan, dia tidak memberi kabar pada Sabina. Puluhan kali dirinya mencoba kirim SMS, tapi tidak mendapatkan balasan. Satu kali mendapat balasan SMS hanya memberitahukan kalau dirinya sedang sibuk. Mencoba menelepon dirinya, tetep tidak diangkat.Hati Sabina mendongkol karenanya. Dirinya menjadi ragu dan bimbang. Hampir setiap hari, Sabina selalu curhat pada Lilo. Seolah saat itu, Lilo menjadi pengganti sosok Daru. Dikeluarkannya keluh kesahnya pada Lilo. Lilo menjadi sosok pendengar setia. Tentu saja tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Lilo, kecuali hanya mendengar semua keluh kesah Sabina. Sambil menangis, Sabina memeluk erat Lilo. Beberapa minggu kemudian, saat Sabina sedang memangkas cemara udang yang dibelinya dari Malang untuk dibentuk menjadi bulat memipih. Tiba2 sebuah mobil Toyota Fortuner berwarna hitam masuk halaman rumahnya. Nomor polisi pada mobil tersebut tentu saja sudah sangat Sabina hafal. Seorang laki-laki tampan turun dari mobil tersebut sambil melepas kacamata hitamnya. Laki2 tersebut tersenyum manis pada Sabina. "Halo Sabinaku," ucapnya. "Kok Diam aja. Marah nih?" tanyanya lagi. Kini Sabina melangkah ke kursi yang terletak di gazebo. Daru mengikutinya. Sambil langsung duduk di kursi itu. Begitu pun dengan Daru. Daru mendekatkan kursinya di dekat Sabina. "Sabina jangan marah dong. Kalau marah, kamu gak cantik lagi lho," ucapnya lagi. Sabina tetap diam. " Iya deh,aku ngaku salah. Akhir2 ini, aku jadi kurang perhatian padamu. Itu karena aku benar2 sibuk. urusan pekerjaan begitu menyita waktuku. Tapi aku benar2 minta maaf Sabina. Aku janji hal itu gak akan terulang lagi. Sesibuk apapun diriku, aku pasti akan selalu kasih kabar padamu." Sabina melirik ke arah Daru. "Sesibuk apa sih, sampai2 kamu gak pernah kirim kabar. Gantungin aku seperti ini. Aku benci sama kamu. Tahu gak! Sikapmu yang berubah begitu cepat membuatku takut. Aku takut tidak bisa mempercayaimu lagi, takut mendengar kata2 yang diucapkan olehmu kalau kamu tidak mencintaiku lagi. Untungnya ada Lilo yang begitu pengertian terhadapku. Dia begitu sabar mendengarkan keluh kesahku. Disaat aku jatuh, dia selalu ada di dekatku." Mendengar kata2 yang diucapkan Sabina, wajah Daru berubah. "Lilo? Siapa dia?" tanyanya. Sabina tidak menjwab pertanyaan yang diajukan oleh Daru padanya. "Sabina cobalah untuk mengerti. Cobalah mengerti posisiku, pekerjaanku. Sudah kukatakan, aku jarang menghubungimu karena benar2 sibuk bukan karena dihatiku ada cewek lain. hanya dirimu yang mampu mangisi hatiku dan selamanya akan selalu bertengger di hatiku," ucap Daru . "Ayolah Sabina jangan bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Aku mohon agar kamu mau memaafkanku, tapi kalau memaafkanku begitu sulit untukmu, aku tidak akan menyerah untuk meyakinkanmu. Mungkin nama 'Lilo' yang sekarang sedang bertengger di hatimu," ucap Daru. "Sekarang aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Sekarang aku pulang dulu," ucap Daru sambil melangkah pergi. Sabina langsung meraih boneka beruang miliknya. Warnya cokelat, bulunya sangat halus, di lehernya bertengger sebuah dasi kupu2 bermotif kotak2 berwarna merah dan hijau. " Daru jangan pergi dong, please. Kita kenalan dulu, namaku Lilo," ucap Sabina yang sengaja menirukan suara anak kecil sambil memangku boneka beruangnya yang sangat lucu. Sambil tersenyum dengan manisnya, Daru melangkah mendekat ke arah Sabina dan kemudian mengecupnya dengan lembut.

Kamis, 04 Maret 2010

BERMAIN BULUTANGKIS

Malam itu, Venda bermain bulu tangkis. Beberapa kali, dia tidak bisa menangkap sasaran oleh raketnya. Betapa gemas saat itu pada sasarannya yg beberapa kali lolos oleh pukulannya. Ke sana ke mari, Venda mengejar sasarannya. Karena lelah, dia terpaksa duduk sejenak untuk istirahat. Sambil mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangannya, dia jg meraih minumannya, matanya tetap melihat ke sekeliling. Keringat hilang, dia pun langsung bangkit kembali. Karena kurang gesit, Venda belum bisa mengenai sasaran dgn baik. "Kali ini, aku harus berhasil. Awas kalau kena," ucapnya dengan geram. Venda bersiap2 menjauhkan mukanya dengan tangannya yg terulur mendekati sasaran. "TOR!" terdengar suara spti itu dr pukulan Venda dan tepat mengenai sasarannya, yaitu salah satu nyamuk oleh raket elektriknya.

Senin, 22 Februari 2010

KEENAN

Pagi itu Hawa bangun kesiangan padahal dia harus pergi kerja. Hari itu tidak seperti biasanya, dia tidak sempat membuatkan susu untuk Keenan. Biasanya membuatkan susu untuk Keenan sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi sebelum Hawa berangkat kerja. Karena dirinya sudah terlambat, terpaksa dia meminta tolong pada adiknya untuk membuatkan susu untuk Keenan. "Kei nanti tolong kamu buatkan susu untuk Keenan ya," ucapnya sambil berlari keluar. Melihat hal itu adiknya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dengan cepat adiknya langsung melaksanakan apa yang diperintahkan oleh kakaknya. Beberapa saat kemudian, dari arah dalam, Keenan melangkah dengan lucunya. "Keenan, ini susunya. Tante sudah buatkan untukmu. Susunya harus langsung kamu habiskan ya biar tidak ada bakteri jahat bersarang di situ," ucapnya sambil menyodorkan susu yang sengaja diletakkan pada tempat lucu khusus untuk Keenan. Dengan cepat, Keenan langsung menghabiskan susu itu. Dalam perjalanan menuju kantornya, Hawa menyesali bangunnya yang kesiangan. Karena hal itu, dia jadi tidak bisa bermain dengan Keenan. Biasanya sebelum berangkat kerja, dia pasti menyempatkan dirinya untuk bermain sebentar dengan Keenan. Begitu jam kerja berakhir, Hawa pun segera pulang karena dia ingin segera bertemu dengan Keenan. Begitu sampai rumah, sosok yang pertama yang Hawa cari adalah Keenan. "Hallo Keenan, ibu sudah pulang, kamu di mana?" ucapnya sambil matanya sibuk mencari-cari sosok Keenan. Dari arah taman dalam, Keenan berlari-lari kecil. Keenan langsung mendekati Hawa. Hawa langsung mengangkat Keenan dalam pangkuannya. Keenan dibelai-belainya dengan lembut. Keenan bermanja-manja pada Hawa. "Keenan tahu gak ibu kangen banget sama kamu," ucapnya sambil tersenyum memandangi Keenan. "Oh, iya, sekarang kan waktunya kamu minum susu lagi ya. Nah, sekarang kamu turun dulu ya, ibu akan buatkan susu untuk kamu. Kamu suka kan?" ucap Hawa. "Meong," kucing anggora itu seolah mengerti apa yang Hawa ucapkan padanya.

Rabu, 17 Februari 2010

CUKUP SEKALI

Ares bertemu wanita yang terlihat begitu cantik di suatu tempat. Ares dan wanita itu pun akhirnya berkenalan. "Perkenalkan, saya Ares," ucapnya dengan pede memperkenalkan dirinya pada wanita cantik itu. "Cisita," ucap wanita cantik itu. Mereka berdua langsung terlihat akrab. "Boleh minta alamat rumah kamu?" ucap Ares pada Cisita. "Boleh," ucap Cisita. Dua hari kemudian, Ares berniat untuk main ke rumah Cisita. Ares ingat alamat yang pernah disebutkan oleh Cisita dua hari yang lalu. Begitu bertemu dengan alamat yang dituju, betapa terkejut dirinya ketika melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Di depannya terdapat banyak pohon kamboja putih dan beberapa nisan di sana. Ares juga sempat membaca tulisan pada sebuah nisan yang bertuliskan nama "Cisita". Dalam hati dia berkata ", Oh, Tuhan, cukup sekali aja."

Senin, 08 Februari 2010

SALAH AMBIL

Karena udara yang panas, Dinda terbangun dari tidur siangnya. Siang itu tidak seperti biasanya dia bisa bertahan tidur tanpa ditemani ac. Karena keringat membasahi wajah dan lehernya, Dinda langsung menekan tombol remote control ac yang terletak di meja nakas. Dinda tidak langsung bangkit dari tidurnya. Dia masih bermalas-malasan di tempat tidurnya. Masih dalam posisi berbaring, Dinda mendengar percakapan nenek dan kakeknya yang sepertinya berada tidak jauh dari kamar Dinda karena Dinda bisa mendengar percakapan kedua orang yang sangat dia sayangi itu dengan jelas. Baru kemarin, Kakek dan Neneknya datang dari Solo. "Teknologi semakin maju kok malah semakin aneh ya Nek," ucap kakek pada istrinya. "Memangnya kenapa toh?" ucap nenek pada suaminya. "Masa membuat sampo kok aneh. Begitu Kakek keramas dengan menggunakan sampo itu, tapi kok sama sekali tidak berbusa. Gak tahu merek apa tadi ya samponya?" ucap kakek mengeluh. "Kakek mungkin terlalu sedikit menggunakannya," ucap nenek dengan sabar. "Apanya yang sedikit, Kakek bahkan menghabiskan sampo itu sampai satu botol," ucap kakek dengan mimik yang lucu. Mendengar hal itu, Dinda langsung menuju kamar mandi. Dinda langsung meraih botol berwarna putih yang telah kosong isinya. "Kakek menghabiskan conditionerku padahal baru kemarin aku beli," ucapnya pelan dalam kamar mandi.

Selasa, 02 Februari 2010

BAYANGAN WAJAH

Malam itu, Sheren sedang dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bandung dengan menggunakan kereta. Dia duduk seorang diri. Tidak ada satu orang pun di sebelahnya ataupun di bangku seberang. Di dalam kereta itu, Sheren sempat melihat seorang yang terlihat begitu cantik. Sheren terlihat kagum melihat kecantikan orang itu. Sungguh kecantikan yang luar biasa sempurna. Cantik yang alami dan tanpa polesan. Wajah gadis itu bulat memanjang. Rambut indah orang itu dibiarkan tergerai begitu saja. Bibir mungilnya yang indah berwarna merah delima tanpa polesan lipstik di bibirnya. Alis matanya yang tebal, tapi tertata rapi menaungi mata indah orang itu. Bulu matanya begitu lentik dan hidungnya terlihat bangir. Rasa kagumnya semakin bertambah saat Sheren melihat orang itu tersenyum pada dirinya. Senyuman yang begitu manis. Bidadarikah dia pikirnya. "Mbak ini pesanan nasi goreng dan es jeruknya," ucap seseorang pada Sheren yang sejak tadi pandangannya tidak lepas dari kaca jendela dimana dia duduk. Tanpa menengok ke arah orang itu pun, Sheren bisa melihat orang yang sedang berbicara padanya lewat kaca jendela kereta itu. Sheren langsung menengok ke orang itu sambil menerima pesanannya sambil mengucapkan kata terima kasih. Setelah melangkah menjauhi Sheren, pegawai PT Kereta Api itu pun berkata, "Wah, cantik banget tuh cewek."

Minggu, 24 Januari 2010

PUTUS

Betapa malu dirinya saat kekasihnya memarahi dirinya di hadapan umum. Karena hal itu, Nazwa lebih memilih untuk pergi saja daripada menanggung rasa malu karena telah dipermalukan seperti itu. Kejadian itu bukan yang pertama dialami oleh Nazwa. Harga dirinya sudah dinjak-injak oleh laki-laki itu. Hati Nazwa benar-benar terluka atas perlakuan kekasihnya. Dia sudah tidak tahan lagi. Kekasihnya pun segera mengejar Nazwa. Pertengkaran di antara mereka pun tidak terhindarkan lagi. Malam itu juga, Nazwa bersikap tegas dengan berani memutuskan kekasihnya. Sudah cukup kesabarannya selama ini untuk bisa memahami watak keasihnya, tapi kali ini hatinya benar-benar menolak. Hampir empat tahun, dia bertahan dengan posisinya sebagai kekasih laki-laki itu. Berusaha memahami dan mau menerima segala kekurangan yang ada pada diri kekasihnya. Tetapi kali ini, dia tidak ingin mempertahankan hubungannya itu. Dia lebih memilih menjadi seorang jomblo daripada memiliki kekasih, tapi selalu melukai hatinya. "Mulai saat ini, kita putus," ucap Nazwa. "Aku gak mau putus!" ucap laki-laki itu. "Terserah! Tapi, sekarang aku sudah tidak mau lagi menjadi kekasihmu dan aku sudah muak dengan sikapmu selama ini," ucap Nazwa. "Sebenarnya mau kamu apa?" tanyanya tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Kamu itu egois banget. Kamu hanya tahu apa yang kamu mau, tapi kamu tidak berusaha ingin tahu apa yang aku mau. Bagaimana kamu akan mempertahankan hubungan kita ini kalau untuk mengerti diriku saja kamu tak mampu. Sepertinya kamu perlu mendengarkan sebuah lagu pada kaset ini. Dalam kaset ini, kamu akan mendapatkan jawaban dari apa yang aku mau," ucap Nazwa sambil menyerahkan sebuah kaset pada kekasihnya. Setelah itu, Nazwa pun pergi meninggalkan laki-laki yang berdiri terpaku memandanginya. "Cut! Faris kenapa kamu tidak mengejarnya," ucap sutradara sambil menunjuk ke arah Nazwa.

Kamis, 14 Januari 2010

SEORANG IBU KANDUNG YANG TEGA MEMBUNUH ANAKNYA

Mungkin dirinya memiliki kelainan jiwa, sehingga dia tega membunuh anak kandungnya sendiri. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa berbuat sekejam itu. Di mana naluri keibuannya itu? Apa mungkin dia telah kehilangan naluri keibuannya? Bisa jadi seperti itu kebenarannya. Sungguh menyedihkan. Seharusnya dia bersyukur bisa dikaruniai seorang anak karena tidak sedikit di dunia ini, seorang ibu yang sangat mendambakan dan merindukan kehadiran seorang anak di sisinya. Atas perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa seseorang, sudah dipastikan dia akan mendekam di penjara beberapa tahun. Lima tahun, delapan tahun, sepuluh tahun, atau dua puluh tahun, dia akan mendekam di penjara yang sangat menyeramkan itu. Biarlah ada hukum yang mengadilinya dengan seadil-adilnya karena untuk masalah hukum tidak banyak yang aku ketahui. Betapa kejam dirinya yang telah tega menusukkan pisau ke arah perut anaknya berkali-kali. Lantai di ruang itu pun dipenuhi oleh darah segar anaknya. Setelah melakukan perbuatan biadab itu, orang itu pun kemudian berlutut sambil menangis. menyesalkah dia yang telah tega membunuh anaknya kandungnya sendiri? Sambil menangis, dia langsung memeluk tubuh anaknya. Begitu layar panggung secara pelan-pelan tertutup, suara tepuk tangan para penonton terdengar menggema di dalam gedung kesenian itu.

Minggu, 10 Januari 2010

SEIKAT KANGKUNG

Sore itu, Queena baru pulang latihan karate di kampusnya. Untuk menuju tempat kosnya, dia lebih memilih jalan "tikus". Dia ingin cepat-cepat sampai di kosnya. Begitu sampai di tikungan menuju kosnya, tiba-tiba matanya melotot. "Duh, gawat! Itu kan Karis, cowok kecenganku. Ngapain dia di sana? Aduh, gimana nih? Aku gak pede banget dengan keadaanku yang bermandikan keringat begini. Mana dia bareng teman-temannya yang usil abis lagi. Untuk balik lagi, gak mungkin juga. Tadi kan hampir saja aku dikejar anjing," gerutunya pelan. Queena nekad singgah ke warung yang letaknya tidak terlalu jauh dari kosnya padahal dia ingat betul kalau dirinya tidak membawa uang karena saat berangkat ke kampusnya tadi, Queena tergesa-gesa, sehingga diriya lupa membawa dompet yang berada di tas satunya sementara tadi dia memakai tas yang lain. "Eh, Mbak Queena. Mau beli apa Mbak?" tanya pemilik warung dengan ramahnya. Queena tersenyum sambil berpikir. Dicarinya barang yang sekiranya tidak ada di warung itu. Setelah dia yakin barang yang akan disebutkannya tidak ada, Queena baru bersuara kembali. "Ehm... nyari kangkung Bu," ucapnya pelan. "Oh, kangkung. Ada tuh tepat di bawah kaki Mbak Queena," jawab pemilik warung sambil tersenyum. "Oh, my God," ucapnya pelan sambil membalikkan badannya.

Rabu, 06 Januari 2010

TAKDIR TAK BISA DITOLAK

Gita, Destiarani, dan Tiur terlihat asyik ngobrol santai di kamar Gita. Tawa mereka yang riang sesekali memecah kamar Gita. "Gila ya, kita kok kompakan banget sih. Sampai sekarang kita sama-sama belum juga dapat cowok," ucap Tiur. "Iya juga ya, padahal tampang kita gak jelek-jelek amat, malah cenderung manis," ucap Destiarani sambil tersenyum. "Gula kali," Gita menanggapi ucapan temannya. "Eh, benar Ta, kita itu gak jelek-jelek amat," ucap Tiur menanggapi ucapan Destiarani. "Tunggu! Aku punya pertanyaan nih," ucap Gita pada kedua temannya. Destiarani langsung serius menanggapi ucapan temannya. "Pertanyaan apa?" tanya Destiarani. "Seandainya ada dua cowok yang suka pada kita pada saat yang bersamaan. Pastinya kalian harus pilih salah satu dong di antara mereka. Nah, yang satu seorang dokter dan yang satunya lagi seorang pengusaha sukses. Kalian lebih pilih yang mana untuk dijadikan pasangan hidup?" tanya Gita. "Dokternya umum atau spesialis nih?" tanya Tiur. "Pokoknya dokter," jawab Gita. "Kalau aku lebih pilih pengusaha dong," ucap Destiarani dengan yakin. "Kalau kamu pilih mana Tiur?" tanya Gita memandang ke arah Tiur. "Pilih yang mana ya? Bingung aku. Dua-duanya aku mau," ucapnya dengan perasaan tidak bersalah. "Enak aja. Gak boleh gitu. Kamu harus pilih salah satu," protes Destiarani. "Pokoknya kalau aku punya cowok, posisinya boleh apa saja deh, karyawan biasa pun jadi, tapi yang penting, pekerjaan dia jangan yang berhubungan dengan bidang hukum saja. Tahu sendiri kan orang-orang yang berhubungan dalam bidang hukum sekarang ini," ucap Tiur terdengar sinis. "Jadi kamu pilih mana nih?" tanyanya. "Pilih pengusaha aja deh," ucapnya. "Kalau kamu sendiri Ta pilih yang mana?" tanya Tiur pada Gita. "Kalau aku lebih pilih dokter dong. Disamping posisinya itu aman. Maksudnya kalau ekonomi sedang kacau pun, ya tenang saja, gak takut bangkrut atau gak punya perasaan was-was di-PHK. Terus jadi seorang dokter itu pekerjaan yang mulia dan pastinya memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Satu lagi alasanku kenapa lebih memilih dokter, yaitu tidak lain karena untuk dia berbuat selingkuh, kemungkinannya sangat kecil karena dia akan menjaga banget reputasinya sebagai seorang dokter," ucap Gita sambil tersenyum pada kedua temannya. "Wah, kalau masalah selingkuh, gak jaminan juga kali seorang dokter tidak berbuat selingkuh," ucap Tiur. "Setuju, itu tergantung individunya Ta," ucap Destiarani. "Ya, pokoknya pilih dokter deh," ucap Gita. Hari itu merupakan hari perpisahan mereka karena ketiganya memutuskan untuk kuliah di tempat yang berbeda. Gita lebih memilih kuliah di Jakarta, Destiarani memilih kuliah di Inggris, sedangkan Tiur lebih memilih melanjutkan kuliah di Belanda. Setelah lima tahun kemudian, mereka baru bertemu kembali di acara reuni akbar SMA mereka. Ketiganya langsung berkumpul dan mengobrol seperti biasanya. "Ngomong-ngomong, aku dah punya cowok loh sekarang. Dia bukanlah seorang pengusaha ataupun dokter, tapi aku sangat mencintainya karena ketulusannya padaku. Dia juga seorang yang setia dan jujur," ucap Destiarani dengan bangga. "Kalau kamu Ta?" tanya Destiarani pada Gita. "Dia seorang dokter dong," ucapnya bangga. "Wah, selamat ya berarti keinginanmu untuk mendapatkan pendamping seorang dokter tercapai sudah. Tiur hanya diam mendengar perbincangan kedua temannya. "Nah, Tiur gimana dengan kamu? Pasti sudah punya pacar juga dong?" tanya Destiarani penasaran. "Sudah," ucap Tiur singkat. "Wah, selamat deh. Dia pasti seorang pengusaha?" tanya Destiarani lagi. Tiur menggeleng. "Cowokku jadi seorang hakim dan aku sangat mencintainya," ucapnya pelan sambil menunduk malu. Mukanya terlihat memerah. Sesaat kemudian dia mengangkat mukanya untuk memandang kedua temannya. "Tapi dia seorang hakim yang jujur dan adil kok," ucapnya lagi dengan tegas. Gita dan Destiarani langsung bertatapan sambil tersenyum.

Minggu, 03 Januari 2010

ARWAH

Sore itu sepulang kerja, Radik bertemu dengan temannya, Miendra. Tidak seperti biasanya, Miendra yang biasanya terlihat sangat angkuh, tiba-tiba berubah menjadi ramah. Di persimpangan jalan, Miendra menyapa Radik dengan ramah. Hal itu tentu saja membuat Radik heran karena jangankan untuk menyapa dirinya, untuk menoleh kalau bertemu pun, sepertinya tidak sudi. Tentu saja karena perubahan sikapnya itu membuat Radik bertanya-tanya. "Tumben banget dia. Biasanya sombongnya minta ampun," ucap Radik pelan setelah mereka berpisah. Rumah Radik terletak paling ujung. Untuk menuju rumahnya pun, dia akan melewati rumah Miendra. Dari jauh, Radik melihat kerumunan orang. Semakin dekat semakin jelas, ternyata kerumunan itu tepat berada di rumah Miendra. Di pagar rumah Miendra pun terdapat bendera kuning. Radik menghentikan kakinya tepat di pintu pagar rumah Miendra dan bertanya pada salah satu orang yang kebetulan dia kenal. "Siapa yang meninggal?" tanya Radik. "Miendra," jawabnya singkat. "Innalillahi wa'inna ilaihi roji'un. Berarti yang tadi itu..." ucap Radik merinding.