Minggu, 24 Januari 2010

PUTUS

Betapa malu dirinya saat kekasihnya memarahi dirinya di hadapan umum. Karena hal itu, Nazwa lebih memilih untuk pergi saja daripada menanggung rasa malu karena telah dipermalukan seperti itu. Kejadian itu bukan yang pertama dialami oleh Nazwa. Harga dirinya sudah dinjak-injak oleh laki-laki itu. Hati Nazwa benar-benar terluka atas perlakuan kekasihnya. Dia sudah tidak tahan lagi. Kekasihnya pun segera mengejar Nazwa. Pertengkaran di antara mereka pun tidak terhindarkan lagi. Malam itu juga, Nazwa bersikap tegas dengan berani memutuskan kekasihnya. Sudah cukup kesabarannya selama ini untuk bisa memahami watak keasihnya, tapi kali ini hatinya benar-benar menolak. Hampir empat tahun, dia bertahan dengan posisinya sebagai kekasih laki-laki itu. Berusaha memahami dan mau menerima segala kekurangan yang ada pada diri kekasihnya. Tetapi kali ini, dia tidak ingin mempertahankan hubungannya itu. Dia lebih memilih menjadi seorang jomblo daripada memiliki kekasih, tapi selalu melukai hatinya. "Mulai saat ini, kita putus," ucap Nazwa. "Aku gak mau putus!" ucap laki-laki itu. "Terserah! Tapi, sekarang aku sudah tidak mau lagi menjadi kekasihmu dan aku sudah muak dengan sikapmu selama ini," ucap Nazwa. "Sebenarnya mau kamu apa?" tanyanya tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Kamu itu egois banget. Kamu hanya tahu apa yang kamu mau, tapi kamu tidak berusaha ingin tahu apa yang aku mau. Bagaimana kamu akan mempertahankan hubungan kita ini kalau untuk mengerti diriku saja kamu tak mampu. Sepertinya kamu perlu mendengarkan sebuah lagu pada kaset ini. Dalam kaset ini, kamu akan mendapatkan jawaban dari apa yang aku mau," ucap Nazwa sambil menyerahkan sebuah kaset pada kekasihnya. Setelah itu, Nazwa pun pergi meninggalkan laki-laki yang berdiri terpaku memandanginya. "Cut! Faris kenapa kamu tidak mengejarnya," ucap sutradara sambil menunjuk ke arah Nazwa.

Kamis, 14 Januari 2010

SEORANG IBU KANDUNG YANG TEGA MEMBUNUH ANAKNYA

Mungkin dirinya memiliki kelainan jiwa, sehingga dia tega membunuh anak kandungnya sendiri. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa berbuat sekejam itu. Di mana naluri keibuannya itu? Apa mungkin dia telah kehilangan naluri keibuannya? Bisa jadi seperti itu kebenarannya. Sungguh menyedihkan. Seharusnya dia bersyukur bisa dikaruniai seorang anak karena tidak sedikit di dunia ini, seorang ibu yang sangat mendambakan dan merindukan kehadiran seorang anak di sisinya. Atas perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa seseorang, sudah dipastikan dia akan mendekam di penjara beberapa tahun. Lima tahun, delapan tahun, sepuluh tahun, atau dua puluh tahun, dia akan mendekam di penjara yang sangat menyeramkan itu. Biarlah ada hukum yang mengadilinya dengan seadil-adilnya karena untuk masalah hukum tidak banyak yang aku ketahui. Betapa kejam dirinya yang telah tega menusukkan pisau ke arah perut anaknya berkali-kali. Lantai di ruang itu pun dipenuhi oleh darah segar anaknya. Setelah melakukan perbuatan biadab itu, orang itu pun kemudian berlutut sambil menangis. menyesalkah dia yang telah tega membunuh anaknya kandungnya sendiri? Sambil menangis, dia langsung memeluk tubuh anaknya. Begitu layar panggung secara pelan-pelan tertutup, suara tepuk tangan para penonton terdengar menggema di dalam gedung kesenian itu.

Minggu, 10 Januari 2010

SEIKAT KANGKUNG

Sore itu, Queena baru pulang latihan karate di kampusnya. Untuk menuju tempat kosnya, dia lebih memilih jalan "tikus". Dia ingin cepat-cepat sampai di kosnya. Begitu sampai di tikungan menuju kosnya, tiba-tiba matanya melotot. "Duh, gawat! Itu kan Karis, cowok kecenganku. Ngapain dia di sana? Aduh, gimana nih? Aku gak pede banget dengan keadaanku yang bermandikan keringat begini. Mana dia bareng teman-temannya yang usil abis lagi. Untuk balik lagi, gak mungkin juga. Tadi kan hampir saja aku dikejar anjing," gerutunya pelan. Queena nekad singgah ke warung yang letaknya tidak terlalu jauh dari kosnya padahal dia ingat betul kalau dirinya tidak membawa uang karena saat berangkat ke kampusnya tadi, Queena tergesa-gesa, sehingga diriya lupa membawa dompet yang berada di tas satunya sementara tadi dia memakai tas yang lain. "Eh, Mbak Queena. Mau beli apa Mbak?" tanya pemilik warung dengan ramahnya. Queena tersenyum sambil berpikir. Dicarinya barang yang sekiranya tidak ada di warung itu. Setelah dia yakin barang yang akan disebutkannya tidak ada, Queena baru bersuara kembali. "Ehm... nyari kangkung Bu," ucapnya pelan. "Oh, kangkung. Ada tuh tepat di bawah kaki Mbak Queena," jawab pemilik warung sambil tersenyum. "Oh, my God," ucapnya pelan sambil membalikkan badannya.

Rabu, 06 Januari 2010

TAKDIR TAK BISA DITOLAK

Gita, Destiarani, dan Tiur terlihat asyik ngobrol santai di kamar Gita. Tawa mereka yang riang sesekali memecah kamar Gita. "Gila ya, kita kok kompakan banget sih. Sampai sekarang kita sama-sama belum juga dapat cowok," ucap Tiur. "Iya juga ya, padahal tampang kita gak jelek-jelek amat, malah cenderung manis," ucap Destiarani sambil tersenyum. "Gula kali," Gita menanggapi ucapan temannya. "Eh, benar Ta, kita itu gak jelek-jelek amat," ucap Tiur menanggapi ucapan Destiarani. "Tunggu! Aku punya pertanyaan nih," ucap Gita pada kedua temannya. Destiarani langsung serius menanggapi ucapan temannya. "Pertanyaan apa?" tanya Destiarani. "Seandainya ada dua cowok yang suka pada kita pada saat yang bersamaan. Pastinya kalian harus pilih salah satu dong di antara mereka. Nah, yang satu seorang dokter dan yang satunya lagi seorang pengusaha sukses. Kalian lebih pilih yang mana untuk dijadikan pasangan hidup?" tanya Gita. "Dokternya umum atau spesialis nih?" tanya Tiur. "Pokoknya dokter," jawab Gita. "Kalau aku lebih pilih pengusaha dong," ucap Destiarani dengan yakin. "Kalau kamu pilih mana Tiur?" tanya Gita memandang ke arah Tiur. "Pilih yang mana ya? Bingung aku. Dua-duanya aku mau," ucapnya dengan perasaan tidak bersalah. "Enak aja. Gak boleh gitu. Kamu harus pilih salah satu," protes Destiarani. "Pokoknya kalau aku punya cowok, posisinya boleh apa saja deh, karyawan biasa pun jadi, tapi yang penting, pekerjaan dia jangan yang berhubungan dengan bidang hukum saja. Tahu sendiri kan orang-orang yang berhubungan dalam bidang hukum sekarang ini," ucap Tiur terdengar sinis. "Jadi kamu pilih mana nih?" tanyanya. "Pilih pengusaha aja deh," ucapnya. "Kalau kamu sendiri Ta pilih yang mana?" tanya Tiur pada Gita. "Kalau aku lebih pilih dokter dong. Disamping posisinya itu aman. Maksudnya kalau ekonomi sedang kacau pun, ya tenang saja, gak takut bangkrut atau gak punya perasaan was-was di-PHK. Terus jadi seorang dokter itu pekerjaan yang mulia dan pastinya memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Satu lagi alasanku kenapa lebih memilih dokter, yaitu tidak lain karena untuk dia berbuat selingkuh, kemungkinannya sangat kecil karena dia akan menjaga banget reputasinya sebagai seorang dokter," ucap Gita sambil tersenyum pada kedua temannya. "Wah, kalau masalah selingkuh, gak jaminan juga kali seorang dokter tidak berbuat selingkuh," ucap Tiur. "Setuju, itu tergantung individunya Ta," ucap Destiarani. "Ya, pokoknya pilih dokter deh," ucap Gita. Hari itu merupakan hari perpisahan mereka karena ketiganya memutuskan untuk kuliah di tempat yang berbeda. Gita lebih memilih kuliah di Jakarta, Destiarani memilih kuliah di Inggris, sedangkan Tiur lebih memilih melanjutkan kuliah di Belanda. Setelah lima tahun kemudian, mereka baru bertemu kembali di acara reuni akbar SMA mereka. Ketiganya langsung berkumpul dan mengobrol seperti biasanya. "Ngomong-ngomong, aku dah punya cowok loh sekarang. Dia bukanlah seorang pengusaha ataupun dokter, tapi aku sangat mencintainya karena ketulusannya padaku. Dia juga seorang yang setia dan jujur," ucap Destiarani dengan bangga. "Kalau kamu Ta?" tanya Destiarani pada Gita. "Dia seorang dokter dong," ucapnya bangga. "Wah, selamat ya berarti keinginanmu untuk mendapatkan pendamping seorang dokter tercapai sudah. Tiur hanya diam mendengar perbincangan kedua temannya. "Nah, Tiur gimana dengan kamu? Pasti sudah punya pacar juga dong?" tanya Destiarani penasaran. "Sudah," ucap Tiur singkat. "Wah, selamat deh. Dia pasti seorang pengusaha?" tanya Destiarani lagi. Tiur menggeleng. "Cowokku jadi seorang hakim dan aku sangat mencintainya," ucapnya pelan sambil menunduk malu. Mukanya terlihat memerah. Sesaat kemudian dia mengangkat mukanya untuk memandang kedua temannya. "Tapi dia seorang hakim yang jujur dan adil kok," ucapnya lagi dengan tegas. Gita dan Destiarani langsung bertatapan sambil tersenyum.

Minggu, 03 Januari 2010

ARWAH

Sore itu sepulang kerja, Radik bertemu dengan temannya, Miendra. Tidak seperti biasanya, Miendra yang biasanya terlihat sangat angkuh, tiba-tiba berubah menjadi ramah. Di persimpangan jalan, Miendra menyapa Radik dengan ramah. Hal itu tentu saja membuat Radik heran karena jangankan untuk menyapa dirinya, untuk menoleh kalau bertemu pun, sepertinya tidak sudi. Tentu saja karena perubahan sikapnya itu membuat Radik bertanya-tanya. "Tumben banget dia. Biasanya sombongnya minta ampun," ucap Radik pelan setelah mereka berpisah. Rumah Radik terletak paling ujung. Untuk menuju rumahnya pun, dia akan melewati rumah Miendra. Dari jauh, Radik melihat kerumunan orang. Semakin dekat semakin jelas, ternyata kerumunan itu tepat berada di rumah Miendra. Di pagar rumah Miendra pun terdapat bendera kuning. Radik menghentikan kakinya tepat di pintu pagar rumah Miendra dan bertanya pada salah satu orang yang kebetulan dia kenal. "Siapa yang meninggal?" tanya Radik. "Miendra," jawabnya singkat. "Innalillahi wa'inna ilaihi roji'un. Berarti yang tadi itu..." ucap Radik merinding.