Hampir tujuh bulan, Sabina tidak bertemu dengan Daru, kekasihnya padahal akhir-akhir ini Sabina sangat membutuhkan kehadirannya. Kehadiran seorang yang bisa memberikan support pada dirinya yang sedang mengalami berbagai masalah. Baik dalam keadaan senang ataupun sedih pastilah orang pertama yang ingin Sabina tuju adalah Daru. Sabina benar2 merindukan kekasihnya. Dia menginginkan kehadiran sosok Daru di sampingnya. Seorang sosok yang sangat dicintainya. Seorang sosok yang dulu sangat perhatian pada dirinya. Seorang laki2 yang dulu sangat menyayangi dan mencintainya dengan tulus. Namun, akhir2 ini, Daru seolah menjauh darinya. Sabina benar2 merasa kehilangan Daru. Dirinya merasa sangat sedih. Daru yang dulu sangat dia kenal, kini seolah terasa asing baginya. Bagaimana mungkin, Daru berubah secepat itu, pikirnya. Selama tujuh bulan, dia tidak memberi kabar pada Sabina. Puluhan kali dirinya mencoba kirim SMS, tapi tidak mendapatkan balasan. Satu kali mendapat balasan SMS hanya memberitahukan kalau dirinya sedang sibuk. Mencoba menelepon dirinya, tetep tidak diangkat.Hati Sabina mendongkol karenanya. Dirinya menjadi ragu dan bimbang. Hampir setiap hari, Sabina selalu curhat pada Lilo. Seolah saat itu, Lilo menjadi pengganti sosok Daru. Dikeluarkannya keluh kesahnya pada Lilo. Lilo menjadi sosok pendengar setia. Tentu saja tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Lilo, kecuali hanya mendengar semua keluh kesah Sabina. Sambil menangis, Sabina memeluk erat Lilo. Beberapa minggu kemudian, saat Sabina sedang memangkas cemara udang yang dibelinya dari Malang untuk dibentuk menjadi bulat memipih. Tiba2 sebuah mobil Toyota Fortuner berwarna hitam masuk halaman rumahnya. Nomor polisi pada mobil tersebut tentu saja sudah sangat Sabina hafal. Seorang laki-laki tampan turun dari mobil tersebut sambil melepas kacamata hitamnya. Laki2 tersebut tersenyum manis pada Sabina. "Halo Sabinaku," ucapnya. "Kok Diam aja. Marah nih?" tanyanya lagi. Kini Sabina melangkah ke kursi yang terletak di gazebo. Daru mengikutinya. Sambil langsung duduk di kursi itu. Begitu pun dengan Daru. Daru mendekatkan kursinya di dekat Sabina. "Sabina jangan marah dong. Kalau marah, kamu gak cantik lagi lho," ucapnya lagi. Sabina tetap diam. " Iya deh,aku ngaku salah. Akhir2 ini, aku jadi kurang perhatian padamu. Itu karena aku benar2 sibuk. urusan pekerjaan begitu menyita waktuku. Tapi aku benar2 minta maaf Sabina. Aku janji hal itu gak akan terulang lagi. Sesibuk apapun diriku, aku pasti akan selalu kasih kabar padamu." Sabina melirik ke arah Daru. "Sesibuk apa sih, sampai2 kamu gak pernah kirim kabar. Gantungin aku seperti ini. Aku benci sama kamu. Tahu gak! Sikapmu yang berubah begitu cepat membuatku takut. Aku takut tidak bisa mempercayaimu lagi, takut mendengar kata2 yang diucapkan olehmu kalau kamu tidak mencintaiku lagi. Untungnya ada Lilo yang begitu pengertian terhadapku. Dia begitu sabar mendengarkan keluh kesahku. Disaat aku jatuh, dia selalu ada di dekatku." Mendengar kata2 yang diucapkan Sabina, wajah Daru berubah. "Lilo? Siapa dia?" tanyanya. Sabina tidak menjwab pertanyaan yang diajukan oleh Daru padanya. "Sabina cobalah untuk mengerti. Cobalah mengerti posisiku, pekerjaanku. Sudah kukatakan, aku jarang menghubungimu karena benar2 sibuk bukan karena dihatiku ada cewek lain. hanya dirimu yang mampu mangisi hatiku dan selamanya akan selalu bertengger di hatiku," ucap Daru . "Ayolah Sabina jangan bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Aku mohon agar kamu mau memaafkanku, tapi kalau memaafkanku begitu sulit untukmu, aku tidak akan menyerah untuk meyakinkanmu. Mungkin nama 'Lilo' yang sekarang sedang bertengger di hatimu," ucap Daru. "Sekarang aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Sekarang aku pulang dulu," ucap Daru sambil melangkah pergi. Sabina langsung meraih boneka beruang miliknya. Warnya cokelat, bulunya sangat halus, di lehernya bertengger sebuah dasi kupu2 bermotif kotak2 berwarna merah dan hijau. " Daru jangan pergi dong, please. Kita kenalan dulu, namaku Lilo," ucap Sabina yang sengaja menirukan suara anak kecil sambil memangku boneka beruangnya yang sangat lucu. Sambil tersenyum dengan manisnya, Daru melangkah mendekat ke arah Sabina dan kemudian mengecupnya dengan lembut.