Betapa malu dirinya saat kekasihnya memarahi dirinya di hadapan umum. Karena hal itu, Nazwa lebih memilih untuk pergi saja daripada menanggung rasa malu karena telah dipermalukan seperti itu. Kejadian itu bukan yang pertama dialami oleh Nazwa. Harga dirinya sudah dinjak-injak oleh laki-laki itu. Hati Nazwa benar-benar terluka atas perlakuan kekasihnya. Dia sudah tidak tahan lagi. Kekasihnya pun segera mengejar Nazwa. Pertengkaran di antara mereka pun tidak terhindarkan lagi. Malam itu juga, Nazwa bersikap tegas dengan berani memutuskan kekasihnya. Sudah cukup kesabarannya selama ini untuk bisa memahami watak keasihnya, tapi kali ini hatinya benar-benar menolak. Hampir empat tahun, dia bertahan dengan posisinya sebagai kekasih laki-laki itu. Berusaha memahami dan mau menerima segala kekurangan yang ada pada diri kekasihnya. Tetapi kali ini, dia tidak ingin mempertahankan hubungannya itu. Dia lebih memilih menjadi seorang jomblo daripada memiliki kekasih, tapi selalu melukai hatinya. "Mulai saat ini, kita putus," ucap Nazwa. "Aku gak mau putus!" ucap laki-laki itu. "Terserah! Tapi, sekarang aku sudah tidak mau lagi menjadi kekasihmu dan aku sudah muak dengan sikapmu selama ini," ucap Nazwa. "Sebenarnya mau kamu apa?" tanyanya tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Kamu itu egois banget. Kamu hanya tahu apa yang kamu mau, tapi kamu tidak berusaha ingin tahu apa yang aku mau. Bagaimana kamu akan mempertahankan hubungan kita ini kalau untuk mengerti diriku saja kamu tak mampu. Sepertinya kamu perlu mendengarkan sebuah lagu pada kaset ini. Dalam kaset ini, kamu akan mendapatkan jawaban dari apa yang aku mau," ucap Nazwa sambil menyerahkan sebuah kaset pada kekasihnya. Setelah itu, Nazwa pun pergi meninggalkan laki-laki yang berdiri terpaku memandanginya. "Cut! Faris kenapa kamu tidak mengejarnya," ucap sutradara sambil menunjuk ke arah Nazwa.