Siang itu, jalan menuju rumah temannya terlihat sangat sepi. Karena rasa senang, dirinya akan berlibur ke Jepang, Wugi bernyanyi sambil melenggak-lenggokkan kepalanya. Dirinya begitu bahagia. Berlibur ke Jepang sudah diidamkannya sejak dulu, tapi ayahnya baru mengizinkannya pergi sekarang, itu pun harus ditemani oleh kakaknya. Tidak apalah pikirnya, yang penting bisa berlibur ke Jepang. Dia hendak ke rumah temannya sambil bernyanyi tanpa henti. Karena teramat bahagia, sehingga dirinya tidak melihat kalau ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Seorang laki-laki memakai kacamata hitam dan duduk di tengah bangku. Orang laki-laki itu sedang memandang ke arah Wugi sambil tersenyum. Begitu Wugi sadar kalau dirinya tengah diperhatikan oleh seseorang, Wugi langsung berhenti bernyanyi, kepalanya tidak lagi berlenggak-lenggok mengikuti alunan musik dari MP3 miliknya. Wugi benar-benar malu pada laki-laki itu. Pasti dia sudah lama memperhatikan tingkahku, pikir Wugi dalam hati. "Aduh, aku benar-benar malu sama orang itu," ucap Wugi pelan. Tiba-tiba laki-laki berkacamata hitam pun bangkit sambil tangannya meraba-raba ke arah sampingnya seperti hendak mencari sesuatu. Sebuah tongkat diraih oleh laki-laki itu. Laki-laki itu pun langsung berjalan meninggalkan Wugi dengan bantuan sebuah tongkat sabagai penunjuk jalan. "Pijat...pijat..." ucap laki-laki itu dengan suara keras sambil tangan kirinya sibuk menggoyangkan barang yang dibawanya, sehingga menimbulkan bunyi bergemerincing.