Minggu, 03 Januari 2010

ARWAH

Sore itu sepulang kerja, Radik bertemu dengan temannya, Miendra. Tidak seperti biasanya, Miendra yang biasanya terlihat sangat angkuh, tiba-tiba berubah menjadi ramah. Di persimpangan jalan, Miendra menyapa Radik dengan ramah. Hal itu tentu saja membuat Radik heran karena jangankan untuk menyapa dirinya, untuk menoleh kalau bertemu pun, sepertinya tidak sudi. Tentu saja karena perubahan sikapnya itu membuat Radik bertanya-tanya. "Tumben banget dia. Biasanya sombongnya minta ampun," ucap Radik pelan setelah mereka berpisah. Rumah Radik terletak paling ujung. Untuk menuju rumahnya pun, dia akan melewati rumah Miendra. Dari jauh, Radik melihat kerumunan orang. Semakin dekat semakin jelas, ternyata kerumunan itu tepat berada di rumah Miendra. Di pagar rumah Miendra pun terdapat bendera kuning. Radik menghentikan kakinya tepat di pintu pagar rumah Miendra dan bertanya pada salah satu orang yang kebetulan dia kenal. "Siapa yang meninggal?" tanya Radik. "Miendra," jawabnya singkat. "Innalillahi wa'inna ilaihi roji'un. Berarti yang tadi itu..." ucap Radik merinding.