Pagi itu Hawa bangun kesiangan padahal dia harus pergi kerja. Hari itu tidak seperti biasanya, dia tidak sempat membuatkan susu untuk Keenan. Biasanya membuatkan susu untuk Keenan sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi sebelum Hawa berangkat kerja. Karena dirinya sudah terlambat, terpaksa dia meminta tolong pada adiknya untuk membuatkan susu untuk Keenan. "Kei nanti tolong kamu buatkan susu untuk Keenan ya," ucapnya sambil berlari keluar. Melihat hal itu adiknya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dengan cepat adiknya langsung melaksanakan apa yang diperintahkan oleh kakaknya. Beberapa saat kemudian, dari arah dalam, Keenan melangkah dengan lucunya. "Keenan, ini susunya. Tante sudah buatkan untukmu. Susunya harus langsung kamu habiskan ya biar tidak ada bakteri jahat bersarang di situ," ucapnya sambil menyodorkan susu yang sengaja diletakkan pada tempat lucu khusus untuk Keenan. Dengan cepat, Keenan langsung menghabiskan susu itu. Dalam perjalanan menuju kantornya, Hawa menyesali bangunnya yang kesiangan. Karena hal itu, dia jadi tidak bisa bermain dengan Keenan. Biasanya sebelum berangkat kerja, dia pasti menyempatkan dirinya untuk bermain sebentar dengan Keenan. Begitu jam kerja berakhir, Hawa pun segera pulang karena dia ingin segera bertemu dengan Keenan. Begitu sampai rumah, sosok yang pertama yang Hawa cari adalah Keenan. "Hallo Keenan, ibu sudah pulang, kamu di mana?" ucapnya sambil matanya sibuk mencari-cari sosok Keenan. Dari arah taman dalam, Keenan berlari-lari kecil. Keenan langsung mendekati Hawa. Hawa langsung mengangkat Keenan dalam pangkuannya. Keenan dibelai-belainya dengan lembut. Keenan bermanja-manja pada Hawa. "Keenan tahu gak ibu kangen banget sama kamu," ucapnya sambil tersenyum memandangi Keenan. "Oh, iya, sekarang kan waktunya kamu minum susu lagi ya. Nah, sekarang kamu turun dulu ya, ibu akan buatkan susu untuk kamu. Kamu suka kan?" ucap Hawa. "Meong," kucing anggora itu seolah mengerti apa yang Hawa ucapkan padanya.
Senin, 22 Februari 2010
Rabu, 17 Februari 2010
CUKUP SEKALI
Ares bertemu wanita yang terlihat begitu cantik di suatu tempat. Ares dan wanita itu pun akhirnya berkenalan. "Perkenalkan, saya Ares," ucapnya dengan pede memperkenalkan dirinya pada wanita cantik itu. "Cisita," ucap wanita cantik itu. Mereka berdua langsung terlihat akrab. "Boleh minta alamat rumah kamu?" ucap Ares pada Cisita. "Boleh," ucap Cisita. Dua hari kemudian, Ares berniat untuk main ke rumah Cisita. Ares ingat alamat yang pernah disebutkan oleh Cisita dua hari yang lalu. Begitu bertemu dengan alamat yang dituju, betapa terkejut dirinya ketika melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Di depannya terdapat banyak pohon kamboja putih dan beberapa nisan di sana. Ares juga sempat membaca tulisan pada sebuah nisan yang bertuliskan nama "Cisita". Dalam hati dia berkata ", Oh, Tuhan, cukup sekali aja."
Senin, 08 Februari 2010
SALAH AMBIL
Karena udara yang panas, Dinda terbangun dari tidur siangnya. Siang itu tidak seperti biasanya dia bisa bertahan tidur tanpa ditemani ac. Karena keringat membasahi wajah dan lehernya, Dinda langsung menekan tombol remote control ac yang terletak di meja nakas. Dinda tidak langsung bangkit dari tidurnya. Dia masih bermalas-malasan di tempat tidurnya. Masih dalam posisi berbaring, Dinda mendengar percakapan nenek dan kakeknya yang sepertinya berada tidak jauh dari kamar Dinda karena Dinda bisa mendengar percakapan kedua orang yang sangat dia sayangi itu dengan jelas. Baru kemarin, Kakek dan Neneknya datang dari Solo. "Teknologi semakin maju kok malah semakin aneh ya Nek," ucap kakek pada istrinya. "Memangnya kenapa toh?" ucap nenek pada suaminya. "Masa membuat sampo kok aneh. Begitu Kakek keramas dengan menggunakan sampo itu, tapi kok sama sekali tidak berbusa. Gak tahu merek apa tadi ya samponya?" ucap kakek mengeluh. "Kakek mungkin terlalu sedikit menggunakannya," ucap nenek dengan sabar. "Apanya yang sedikit, Kakek bahkan menghabiskan sampo itu sampai satu botol," ucap kakek dengan mimik yang lucu. Mendengar hal itu, Dinda langsung menuju kamar mandi. Dinda langsung meraih botol berwarna putih yang telah kosong isinya. "Kakek menghabiskan conditionerku padahal baru kemarin aku beli," ucapnya pelan dalam kamar mandi.
Selasa, 02 Februari 2010
BAYANGAN WAJAH
Malam itu, Sheren sedang dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bandung dengan menggunakan kereta. Dia duduk seorang diri. Tidak ada satu orang pun di sebelahnya ataupun di bangku seberang. Di dalam kereta itu, Sheren sempat melihat seorang yang terlihat begitu cantik. Sheren terlihat kagum melihat kecantikan orang itu. Sungguh kecantikan yang luar biasa sempurna. Cantik yang alami dan tanpa polesan. Wajah gadis itu bulat memanjang. Rambut indah orang itu dibiarkan tergerai begitu saja. Bibir mungilnya yang indah berwarna merah delima tanpa polesan lipstik di bibirnya. Alis matanya yang tebal, tapi tertata rapi menaungi mata indah orang itu. Bulu matanya begitu lentik dan hidungnya terlihat bangir. Rasa kagumnya semakin bertambah saat Sheren melihat orang itu tersenyum pada dirinya. Senyuman yang begitu manis. Bidadarikah dia pikirnya. "Mbak ini pesanan nasi goreng dan es jeruknya," ucap seseorang pada Sheren yang sejak tadi pandangannya tidak lepas dari kaca jendela dimana dia duduk. Tanpa menengok ke arah orang itu pun, Sheren bisa melihat orang yang sedang berbicara padanya lewat kaca jendela kereta itu. Sheren langsung menengok ke orang itu sambil menerima pesanannya sambil mengucapkan kata terima kasih. Setelah melangkah menjauhi Sheren, pegawai PT Kereta Api itu pun berkata, "Wah, cantik banget tuh cewek."
Langganan:
Postingan (Atom)