Rabu, 06 Januari 2010

TAKDIR TAK BISA DITOLAK

Gita, Destiarani, dan Tiur terlihat asyik ngobrol santai di kamar Gita. Tawa mereka yang riang sesekali memecah kamar Gita. "Gila ya, kita kok kompakan banget sih. Sampai sekarang kita sama-sama belum juga dapat cowok," ucap Tiur. "Iya juga ya, padahal tampang kita gak jelek-jelek amat, malah cenderung manis," ucap Destiarani sambil tersenyum. "Gula kali," Gita menanggapi ucapan temannya. "Eh, benar Ta, kita itu gak jelek-jelek amat," ucap Tiur menanggapi ucapan Destiarani. "Tunggu! Aku punya pertanyaan nih," ucap Gita pada kedua temannya. Destiarani langsung serius menanggapi ucapan temannya. "Pertanyaan apa?" tanya Destiarani. "Seandainya ada dua cowok yang suka pada kita pada saat yang bersamaan. Pastinya kalian harus pilih salah satu dong di antara mereka. Nah, yang satu seorang dokter dan yang satunya lagi seorang pengusaha sukses. Kalian lebih pilih yang mana untuk dijadikan pasangan hidup?" tanya Gita. "Dokternya umum atau spesialis nih?" tanya Tiur. "Pokoknya dokter," jawab Gita. "Kalau aku lebih pilih pengusaha dong," ucap Destiarani dengan yakin. "Kalau kamu pilih mana Tiur?" tanya Gita memandang ke arah Tiur. "Pilih yang mana ya? Bingung aku. Dua-duanya aku mau," ucapnya dengan perasaan tidak bersalah. "Enak aja. Gak boleh gitu. Kamu harus pilih salah satu," protes Destiarani. "Pokoknya kalau aku punya cowok, posisinya boleh apa saja deh, karyawan biasa pun jadi, tapi yang penting, pekerjaan dia jangan yang berhubungan dengan bidang hukum saja. Tahu sendiri kan orang-orang yang berhubungan dalam bidang hukum sekarang ini," ucap Tiur terdengar sinis. "Jadi kamu pilih mana nih?" tanyanya. "Pilih pengusaha aja deh," ucapnya. "Kalau kamu sendiri Ta pilih yang mana?" tanya Tiur pada Gita. "Kalau aku lebih pilih dokter dong. Disamping posisinya itu aman. Maksudnya kalau ekonomi sedang kacau pun, ya tenang saja, gak takut bangkrut atau gak punya perasaan was-was di-PHK. Terus jadi seorang dokter itu pekerjaan yang mulia dan pastinya memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Satu lagi alasanku kenapa lebih memilih dokter, yaitu tidak lain karena untuk dia berbuat selingkuh, kemungkinannya sangat kecil karena dia akan menjaga banget reputasinya sebagai seorang dokter," ucap Gita sambil tersenyum pada kedua temannya. "Wah, kalau masalah selingkuh, gak jaminan juga kali seorang dokter tidak berbuat selingkuh," ucap Tiur. "Setuju, itu tergantung individunya Ta," ucap Destiarani. "Ya, pokoknya pilih dokter deh," ucap Gita. Hari itu merupakan hari perpisahan mereka karena ketiganya memutuskan untuk kuliah di tempat yang berbeda. Gita lebih memilih kuliah di Jakarta, Destiarani memilih kuliah di Inggris, sedangkan Tiur lebih memilih melanjutkan kuliah di Belanda. Setelah lima tahun kemudian, mereka baru bertemu kembali di acara reuni akbar SMA mereka. Ketiganya langsung berkumpul dan mengobrol seperti biasanya. "Ngomong-ngomong, aku dah punya cowok loh sekarang. Dia bukanlah seorang pengusaha ataupun dokter, tapi aku sangat mencintainya karena ketulusannya padaku. Dia juga seorang yang setia dan jujur," ucap Destiarani dengan bangga. "Kalau kamu Ta?" tanya Destiarani pada Gita. "Dia seorang dokter dong," ucapnya bangga. "Wah, selamat ya berarti keinginanmu untuk mendapatkan pendamping seorang dokter tercapai sudah. Tiur hanya diam mendengar perbincangan kedua temannya. "Nah, Tiur gimana dengan kamu? Pasti sudah punya pacar juga dong?" tanya Destiarani penasaran. "Sudah," ucap Tiur singkat. "Wah, selamat deh. Dia pasti seorang pengusaha?" tanya Destiarani lagi. Tiur menggeleng. "Cowokku jadi seorang hakim dan aku sangat mencintainya," ucapnya pelan sambil menunduk malu. Mukanya terlihat memerah. Sesaat kemudian dia mengangkat mukanya untuk memandang kedua temannya. "Tapi dia seorang hakim yang jujur dan adil kok," ucapnya lagi dengan tegas. Gita dan Destiarani langsung bertatapan sambil tersenyum.