Kamis, 23 September 2010

Permen Berjalan

Beberapa menit yang lalu, Karen mendapat telepon dari seseorang yang mengatakan kalau kekasihnya mengalami kecelakaan. Betapa terkejut dirinya. Dari nada bicara & sederet pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehnya kalau Karen begitu panik. Tanpa berpikir lagi, Karen langsung menuju ke rumah sakit di mana keksihnya tergolek tak berdaya. Semua aktivitas dirinya langsung ditinggalkan begitu saja olehnya. Sesampainya di rumah sakit, dia bertemu dengan orang-orang yang memandanginya dengan senyuman. Kenal pun tidak, hal itulah yang membuat Karen menjadi heran. Karena rasa panik masih menguasai dirinya, hal itu tidak dipedulikan olehnya. Pikirannya hanya terpusat kepada kekasihnya. Seseorang yang tidak begitu jauh darinya melambaikan tangan pada dirinya dan Karen langsung mengenali orang itu. "Bagaimana keadaan Imsak? Dia di mana sekarang?" tanya Karen dengan dengan panik. "Tenang saja kamu jangan panik, dia hanya luja ringan kok," ucap lawan bicaranya. Walaupun sedikit lega, Karen tetap saja belum bisa melepaskan rasa cemas di hatinya. Wajahnya masih terlihat pucat. Dia menunggu dengan gelisah sambil berjalan bolak-balik tak karuan di depan ruang di mana kekasihnya berada. Tiba-tiba sahabat kekasihnya pun tersenyum begitu saja begitu dirinya melihat ke arah kaki Karen. Sambil mendekat ke arah Karen, orang itu bicara pada Karen sepelan-pelannya seolah-olah jangan sampai orang lain tahu. "Ternyata ada permen berjalan juga ya di rumah sakit ini, tengok ke arah kaki," ucapnya sambil tersenyum. Karen pun dengan reflek langsung melihat ke arah kakinya. "Astaga! Sandalku!" ucapnya. Kaki kiri menggunakan sandal japit berwarna merah, sedangkan kaki yang satunya lagi memakai sandal berwarna biru. "Orang akan mengiramu akan pergi ke pasar," ledek orang yang berada di sebelahnya yang tak lain adalah sahabat kekasihnya.