Minggu, 10 Januari 2010

SEIKAT KANGKUNG

Sore itu, Queena baru pulang latihan karate di kampusnya. Untuk menuju tempat kosnya, dia lebih memilih jalan "tikus". Dia ingin cepat-cepat sampai di kosnya. Begitu sampai di tikungan menuju kosnya, tiba-tiba matanya melotot. "Duh, gawat! Itu kan Karis, cowok kecenganku. Ngapain dia di sana? Aduh, gimana nih? Aku gak pede banget dengan keadaanku yang bermandikan keringat begini. Mana dia bareng teman-temannya yang usil abis lagi. Untuk balik lagi, gak mungkin juga. Tadi kan hampir saja aku dikejar anjing," gerutunya pelan. Queena nekad singgah ke warung yang letaknya tidak terlalu jauh dari kosnya padahal dia ingat betul kalau dirinya tidak membawa uang karena saat berangkat ke kampusnya tadi, Queena tergesa-gesa, sehingga diriya lupa membawa dompet yang berada di tas satunya sementara tadi dia memakai tas yang lain. "Eh, Mbak Queena. Mau beli apa Mbak?" tanya pemilik warung dengan ramahnya. Queena tersenyum sambil berpikir. Dicarinya barang yang sekiranya tidak ada di warung itu. Setelah dia yakin barang yang akan disebutkannya tidak ada, Queena baru bersuara kembali. "Ehm... nyari kangkung Bu," ucapnya pelan. "Oh, kangkung. Ada tuh tepat di bawah kaki Mbak Queena," jawab pemilik warung sambil tersenyum. "Oh, my God," ucapnya pelan sambil membalikkan badannya.