"Sampai Kakek pensiun pun, kita masih menggunakan vespa butut ini aja ya Kek," ucap nenek pada suaminya. "Walaupun begitu, kita harus tetap bangga lho Nek. Ingat, vespa ini adalah salah satu dari mas kawin pernikahan kita," ucap kakek menanggapi istrinya. "Lain dulu, lain sekarang Kek. Tapi sekarang, vespa kita ini sudah ketinggalan zaman. Dah, butut, gak bisa lari lagi," ucap nenek pada suaminya. Mereka sedang berboncengan dengan menggunakan vespa bututnya. "Coba kita punya mobil seperti yang di depan itu," ucap nenek lagi. "Oh, Nissan X-Trile, daripada mobil yang di depan kita itu, vespa kita lebih baik Nek," ucap kakek. "Baik apanya? Masa motor butut dibandingkan dengan mobil mewah itu, Kakek lebih pilih motor butut," ucap neneknya yang belum bisa mengikuti jalan pikiran suaminya. "Coba deh, Nenek lihat warna pelat mobil itu," ucap kakeknya. "Merah," ucap neneknya dengan polos, tanpa ekspresi sedikit pun.
Sabtu, 27 Maret 2010
Jumat, 19 Maret 2010
TUKANG PIJAT KELILING
Siang itu, jalan menuju rumah temannya terlihat sangat sepi. Karena rasa senang, dirinya akan berlibur ke Jepang, Wugi bernyanyi sambil melenggak-lenggokkan kepalanya. Dirinya begitu bahagia. Berlibur ke Jepang sudah diidamkannya sejak dulu, tapi ayahnya baru mengizinkannya pergi sekarang, itu pun harus ditemani oleh kakaknya. Tidak apalah pikirnya, yang penting bisa berlibur ke Jepang. Dia hendak ke rumah temannya sambil bernyanyi tanpa henti. Karena teramat bahagia, sehingga dirinya tidak melihat kalau ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Seorang laki-laki memakai kacamata hitam dan duduk di tengah bangku. Orang laki-laki itu sedang memandang ke arah Wugi sambil tersenyum. Begitu Wugi sadar kalau dirinya tengah diperhatikan oleh seseorang, Wugi langsung berhenti bernyanyi, kepalanya tidak lagi berlenggak-lenggok mengikuti alunan musik dari MP3 miliknya. Wugi benar-benar malu pada laki-laki itu. Pasti dia sudah lama memperhatikan tingkahku, pikir Wugi dalam hati. "Aduh, aku benar-benar malu sama orang itu," ucap Wugi pelan. Tiba-tiba laki-laki berkacamata hitam pun bangkit sambil tangannya meraba-raba ke arah sampingnya seperti hendak mencari sesuatu. Sebuah tongkat diraih oleh laki-laki itu. Laki-laki itu pun langsung berjalan meninggalkan Wugi dengan bantuan sebuah tongkat sabagai penunjuk jalan. "Pijat...pijat..." ucap laki-laki itu dengan suara keras sambil tangan kirinya sibuk menggoyangkan barang yang dibawanya, sehingga menimbulkan bunyi bergemerincing.
Selasa, 09 Maret 2010
JEALOUS
Hampir tujuh bulan, Sabina tidak bertemu dengan Daru, kekasihnya padahal akhir-akhir ini Sabina sangat membutuhkan kehadirannya. Kehadiran seorang yang bisa memberikan support pada dirinya yang sedang mengalami berbagai masalah. Baik dalam keadaan senang ataupun sedih pastilah orang pertama yang ingin Sabina tuju adalah Daru. Sabina benar2 merindukan kekasihnya. Dia menginginkan kehadiran sosok Daru di sampingnya. Seorang sosok yang sangat dicintainya. Seorang sosok yang dulu sangat perhatian pada dirinya. Seorang laki2 yang dulu sangat menyayangi dan mencintainya dengan tulus. Namun, akhir2 ini, Daru seolah menjauh darinya. Sabina benar2 merasa kehilangan Daru. Dirinya merasa sangat sedih. Daru yang dulu sangat dia kenal, kini seolah terasa asing baginya. Bagaimana mungkin, Daru berubah secepat itu, pikirnya. Selama tujuh bulan, dia tidak memberi kabar pada Sabina. Puluhan kali dirinya mencoba kirim SMS, tapi tidak mendapatkan balasan. Satu kali mendapat balasan SMS hanya memberitahukan kalau dirinya sedang sibuk. Mencoba menelepon dirinya, tetep tidak diangkat.Hati Sabina mendongkol karenanya. Dirinya menjadi ragu dan bimbang. Hampir setiap hari, Sabina selalu curhat pada Lilo. Seolah saat itu, Lilo menjadi pengganti sosok Daru. Dikeluarkannya keluh kesahnya pada Lilo. Lilo menjadi sosok pendengar setia. Tentu saja tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Lilo, kecuali hanya mendengar semua keluh kesah Sabina. Sambil menangis, Sabina memeluk erat Lilo. Beberapa minggu kemudian, saat Sabina sedang memangkas cemara udang yang dibelinya dari Malang untuk dibentuk menjadi bulat memipih. Tiba2 sebuah mobil Toyota Fortuner berwarna hitam masuk halaman rumahnya. Nomor polisi pada mobil tersebut tentu saja sudah sangat Sabina hafal. Seorang laki-laki tampan turun dari mobil tersebut sambil melepas kacamata hitamnya. Laki2 tersebut tersenyum manis pada Sabina. "Halo Sabinaku," ucapnya. "Kok Diam aja. Marah nih?" tanyanya lagi. Kini Sabina melangkah ke kursi yang terletak di gazebo. Daru mengikutinya. Sambil langsung duduk di kursi itu. Begitu pun dengan Daru. Daru mendekatkan kursinya di dekat Sabina. "Sabina jangan marah dong. Kalau marah, kamu gak cantik lagi lho," ucapnya lagi. Sabina tetap diam. " Iya deh,aku ngaku salah. Akhir2 ini, aku jadi kurang perhatian padamu. Itu karena aku benar2 sibuk. urusan pekerjaan begitu menyita waktuku. Tapi aku benar2 minta maaf Sabina. Aku janji hal itu gak akan terulang lagi. Sesibuk apapun diriku, aku pasti akan selalu kasih kabar padamu." Sabina melirik ke arah Daru. "Sesibuk apa sih, sampai2 kamu gak pernah kirim kabar. Gantungin aku seperti ini. Aku benci sama kamu. Tahu gak! Sikapmu yang berubah begitu cepat membuatku takut. Aku takut tidak bisa mempercayaimu lagi, takut mendengar kata2 yang diucapkan olehmu kalau kamu tidak mencintaiku lagi. Untungnya ada Lilo yang begitu pengertian terhadapku. Dia begitu sabar mendengarkan keluh kesahku. Disaat aku jatuh, dia selalu ada di dekatku." Mendengar kata2 yang diucapkan Sabina, wajah Daru berubah. "Lilo? Siapa dia?" tanyanya. Sabina tidak menjwab pertanyaan yang diajukan oleh Daru padanya. "Sabina cobalah untuk mengerti. Cobalah mengerti posisiku, pekerjaanku. Sudah kukatakan, aku jarang menghubungimu karena benar2 sibuk bukan karena dihatiku ada cewek lain. hanya dirimu yang mampu mangisi hatiku dan selamanya akan selalu bertengger di hatiku," ucap Daru . "Ayolah Sabina jangan bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Aku mohon agar kamu mau memaafkanku, tapi kalau memaafkanku begitu sulit untukmu, aku tidak akan menyerah untuk meyakinkanmu. Mungkin nama 'Lilo' yang sekarang sedang bertengger di hatimu," ucap Daru. "Sekarang aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Sekarang aku pulang dulu," ucap Daru sambil melangkah pergi. Sabina langsung meraih boneka beruang miliknya. Warnya cokelat, bulunya sangat halus, di lehernya bertengger sebuah dasi kupu2 bermotif kotak2 berwarna merah dan hijau. " Daru jangan pergi dong, please. Kita kenalan dulu, namaku Lilo," ucap Sabina yang sengaja menirukan suara anak kecil sambil memangku boneka beruangnya yang sangat lucu. Sambil tersenyum dengan manisnya, Daru melangkah mendekat ke arah Sabina dan kemudian mengecupnya dengan lembut.
Kamis, 04 Maret 2010
BERMAIN BULUTANGKIS
Malam itu, Venda bermain bulu tangkis. Beberapa kali, dia tidak bisa menangkap sasaran oleh raketnya. Betapa gemas saat itu pada sasarannya yg beberapa kali lolos oleh pukulannya. Ke sana ke mari, Venda mengejar sasarannya. Karena lelah, dia terpaksa duduk sejenak untuk istirahat. Sambil mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangannya, dia jg meraih minumannya, matanya tetap melihat ke sekeliling. Keringat hilang, dia pun langsung bangkit kembali. Karena kurang gesit, Venda belum bisa mengenai sasaran dgn baik. "Kali ini, aku harus berhasil. Awas kalau kena," ucapnya dengan geram. Venda bersiap2 menjauhkan mukanya dengan tangannya yg terulur mendekati sasaran. "TOR!" terdengar suara spti itu dr pukulan Venda dan tepat mengenai sasarannya, yaitu salah satu nyamuk oleh raket elektriknya.
Langganan:
Postingan (Atom)