Rabu, 30 Desember 2009

YANG SELALU DIKENANG

Alvito menelepon Tulus dari kantornya. Alvito meminta pada Tulus untuk menemuinya di taman, tempat di mana pertama kali mereka bertemu. Dengan senang, Tulus langsung berangkat ke Taman. Begitu Tulus sampai di taman, Alvito ternyata datang lebih awal dibandingkannya. Di taman itu Alvito duduk di bangku yang menghadap ke arah selatan. Dari arah belakang, Tulus menutup mata Alvito dengan kedua tangannya. "Tulus duduklah di sampingku," ucapnya terdengar tenang. "Ya... selalu aja ketahuan," keluh Tulus. "Dari wanginya, aku sudah tahu, itu kamu," ucap Alvito. "Benarkah?" tanya Tulus melambung dan Alvito mengiyakan pertanyaan Tulus. Tulus pun kemudian duduk di samping Alvito. Sore itu, langit tampak terlihat mendung. Tampaknya sore itu akan turun hujan. Tulus langsung menyandarkan badannya di senderan bangku panjang itu. Matanya sesekali melirik ke arah Alvito. "Ada apa? Bukankan kemarin kita bertemu. Sekarang kamu dah kangen lagi ya sama aku? Ayo ngaku?" tanyanya dengan genit. Alvito langsung meraih tangan Tulus sambil tersenyum. "Iya, setiap hari, aku selalu merindukanmu. Tulus, kamu tampak terlihat lebih cantik dengan baju hitammu itu," ucapnya dengan tenang sambil memandangi Tulus. "Biasanya, aku juga cantik kan?" tanyanya lagi sambil membalas pandangan Alvito dengan memberikan senyuman termanisnya. Alvito pun mengiyakan pernyataan pacarnya. Kemudian keduanya kembali menghadap ke arah depan. Keduanya tidak lagi saling berpandangan. Pelan-pelan tangan Alvito terlepas dari tangan Tulus dan Tulus membiarkan hal itu. "Sepertinya hidupku ini beruntung banget bisa dapetin cowok seperti kamu. Betapa Allah sangat mengasihiku sehingga aku dipertemukan denganmu. Aku jadi semakin yakin kalau aku ini orang yang baik, buktinya aku bisa bertemu dengan orang yang baik pula, seperti kamu ini. Kamu itu orangnya baik banget, pengertian, sabar, bisa mencintai dan menyayangiku dengan tulus, bisa menghargaiku sebagai seorang wanita, kamu juga ganteng, baik dan peduli terhadap orang lain, terus yang paling penting kamu itu orangnya setia banget padaku. Aku bakal jatuh cinta selamanya padamu, sayang. Selamanya Vito," ucapnya sambil menerawang ke arah langit yang semakin gelap.
Der! Suara petir bergemuruh. Dengan spontan, Tulus langsung memeluk Alvito. "Vito, aku takut banget," ucapnya gemetar. Tapi anehnya, tidak seperti biasanya, kali itu Alvito sama sekali tidak membalas pelukan Tulus. Tulus bisa merasakannya. Dengan hati-hati, Tulus melepaskan pelukannya. Dipandang kekasihnya yang terlihat sangat tenang. Mata Alvito terpejam dan bibirnya tersenyum. Seluruh tubuh kekasihnya terasa dingin dan wajahnya pucat, namun wajahnya terlihat bersinar. Tubuh Tulus terasa menggigil. Rasa takut seolah telah menguasai hati Tulus saat itu. Tulus langsung memeriksa nadi di pergelangan tangan kekasihnya yang ternyata saat itu telah berhenti berdenyut kemudian jari telunjuk tangan kanan Tulus pindah ke arah hidung Alvito dan ternyata tidak ditemui hembusan napas di sana. Tulus melihat ke arah baju hitam yang sedang dikenakannya. Saat itu juga, Tulus langsung menjerit histeris. Dengan bersimpuh, Tulus menangisi kekasihnya yang duduk di bangku putih itu. Walaupun hujan membasahi tubuhnya, dia tidak peduli lagi. Petir yang biasanya Tulus takuti pun tidak dihiraukannya lagi.