Sabtu, 19 Desember 2009

KECEWA

Gledi sibuk membuatkan pembatas buku untuk pacarnya. "Aku tulis namamu aja ya?" tanya Gledi meminta persetujuan pacarnya. "Kalau bisa jangan deh. Aku ingin di pembatas buku itu diberi sebait puisi karya kamu, terus warna kertasnya biru aja." Akhirnya Gledi membuat pembatas buku sesuai dengan selera pacarnya. Karena sibuk membuat pembatas buku itu, dia rela tidur hingga larut agar pembatas buku itu langsung segera diserahkan untuk pacarnya. Gledi mendesain pembatas buku itu dengan bermacam-macam gambar. Dihiasi juga dengan puisi-puisi karyanya yang ditulis dengan berbagai macam tinta yang berbeda. Setelah selesai, Gledi langsung melaminatingnya. Sebagai hasil akhir dari proses pembuatan, Gledi tinggal melubangi pembatas buku itu untuk diberinya pita. Pasti Doni akan menyukainya pikir Gledi dengan senang. Setelah jadi, Gledi akan langsung menyerahkan empat pembatas buku yang dibuatnya untuk Doni. Benar dugaannya, Doni terlihat sangat senang saat menerimanya. "Makasih ya sayang. Kamu kreatif banget sih," ucap Doni ditujukan pada Gledi. Gledi hanya tersenyum dan dirinya merasa puas bisa menyenangkan hati pacarnya. Keesokan harinya, Gledi sibuk kuliah. Hari itu ada tiga mata kuliah yang harus dia ikuti. Dua mata kuliah jadwalnya berurutan, sedangkan satu mata kuliah lagi terpotong oleh jadwal angkatan lain. Karena rumahnya cukup jauh dari kampusnya, Gledi akhirnya memutuskan untuk ikut tawaran temannya untuk mampir ke tempat kos temannya yang letaknya berdekatan dengan kampus. "Ayo, masuk Gled. Jangan sungkan-sungkan kalau sama aku," ucap temannya dengan ramah. Gledi dan Tiki mengambil kuliah di jurusan yang sama dan mereka pun kebetulan satu angkatan, tapi hubungan pertemanan keduanya tidak terlalu dekat. Gledi langsung masuk kamar temannya itu. "Bentar ya aku mau ke belakang dulu," ucap temannya lagi. Gledi hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Gledi langsung duduk di kursi yang menghadap ke arah meja belajar. Diperhatikannya buku-buku yang tertata rapih di atas meja itu. Tiba-tiba matanya tertarik pada beberapa benda yang berserakan dan berwarna biru. Benda itu seolah mengundang Gledi untuk meraihnya. Diperhatikannya empat benda itu satu demi satu. Dibolak-balik benda-benda itu dari sisi yang berbeda. Matanya melebar membaca kata-kata yang sudah dihafalnya. Kata-kata indah yang terangkai dalam sebuah bait. Tiba-tiba temannya mengagetkan dirinya. " Dor! Jangan melamun dong," ucap temannya sambil tertawa. Gledi langsung tersadar dari lamunannya. "Tiki pembatas buku ini bagus-bagus lho. Kamu beli di mana pembatas buku yang bagus dan lucu-lucu ini? Atau jangan-jangan dapat pesan?" tanya Gledi pada temannya. "Oh, pembatas buku itu. Itu hadiah dari pacarku. Bagus kan? Kalau kamu suka kamu boleh ambil satu," ucap temannya dengan antusias. "Pacar kamu?" tanyanya lagi. "Iya, pacar aku. Dia orangnya baik banget, pokoknya care banget padaku." Dengan bangga, Tiki memuji pacarnya. "Kalau boleh tahu siapa nama pacar kamu?" tanya Gledi yang nadanya terdengar tidak sabar. "Doni," ucap Tiki. Pembatas buku yang semula Gledi pegang langsung dia letakkan lagi di atas meja. Mukanya terlihat pucat dan seluruh tubuhnya terasa lemas.